Sabtu, 12 Mei 2012

Orang Tua Nabi Muhammad saw

Ayah rasulullah Muhammad saw bernama Abdullah sedangkan ibunda beliau bernama Aminah. Nasab ibunda rasul adalah Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Jadi nasab ayah dan ibunda rasul bertemu pada Abdu Manaf.
Sebenarnya, nama asli Abdullah adalah Abdul Dar. Nama Abdullah itu diberikan Abdul Muthollib setelah ia menebus nyawa Abdul Dar dengan berkurban untuk Allah swt. Pengurbanan itu adalah bentuk realisasi dari nazar Abdul Muthollib yang pernah bernazar akan menyembelih salah satu anaknya bila ia berhasil menemukan lokasi sumur zam-zam. Bagaimana ceritanya?

 Saat itu, Mekah dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Kebutuhan akan air sangat tinggi, sementara persediaan air semakin menipis. Pada masa itu, sumur zam-zam belumlah ditemukan kembali. Keberadaannya hanya diketahui masyarakat Quraisy dari cerita para orang tua, hal ini membuat keberadaan sumur zam-zam yang konon airnya tak pernah kering itu tak ubahnya mitos atau legenda semata.
Sampai suatu malam, Abdul Muthollib bermimpi diaraahkan seseorang untuk menggali di suatu tempat. Sebab dari tempat itu akan ditemukan sumur zam-zam yang tidak akan pernah kering atau habis airnya. Mimpi itu terus berulang sampai tiga kali. Hal ini akhirnya membuat Abdul Muthollib yakin bahwa mimpi itu pastilah sebuah petunjuk.
Maka setelah mimpi yang ketiga, Abdul Muthollib merasa mantap hatinya dan mulai melakukan penggalian ditempat yang ia mimpikan. Saat itu, ia hanya dibantu oleh Harits, anak semata wayangnya. Melihat perbuatan bapak dan anak itu, banyak masyarakat Quraisy; termasuk tokoh-tokoh mereka yang tertawa geli dan mengejek. "Untuk apa ditengah udara yang panas, musim yang kering, dan tanah yang keras, melakukan penggalian? Mau bercocok tanam kah?" 
Awalnya, hal itu tidak terlalu digubris oleh Abdul Muthollib. Namun lambat laun, seiring brejalannya penggalian yang seolah menemui jalan buntu; jiwa manusiawi Abdul Muthollib timbul. Hatinya mulai mengeluh dan menggerutu, "Ah, seandainya aku memiliki anak yang banyak...tentulah mereka akan dapat membantuku menemukan sumur itu.." begitu pikirnya.  Namun karena sudah lama menggali dan tetap tidak ada tanda-tanda air juga, Abdul Muthollib jadi bernazar,.."Ya Allah, bila kau mudahkan usaha kami. Bila kau izinkan kami untuk menemukan sumur zam-zam itu, aku bersumpah akan mengurbankan salah seorang anakku hanya untuk-Mu".
Dengan izin Allah, Abdullah dan putranya Harits berhasil menemukan sumur zam-zam. Dan tidak hanya itu, ia malah dikaruniai anak laki-laki yang banyak hingga berjumlah sepuluh orang. Mereka adalah : Abdul Dar (Abdullah), Abdu Manaf (Abu Tholib), Zubair,  (Ibu mereka : Fathimah binti Amir al-Makhzumiyah), Abbas dan Dhirar (Ibu mereka : Natilah al-Umriyah), Hamzah dan al-Muqawwim (Ibu mereka : Halah binti Wahab), Abdul 'Uzza(Abu Lahab), ibunya bernama Lubna al-Khuza'iyyah, kemudian al-Harits (ibunya : Shafiyah dari Bani Amir), terakhir Hajl, yg dijuluki al-Ghaidaq (Ibunya bernama Mumni'ah). Mengingat kepada nazarnya, Abdul Muthollib kemudian mengundi siapa diantara anak-anaknya yang akan dia kurbankan. Ternyata yang keluar adalah nama Abdul Dar, padahal sebagai anak bungsu Abdul Dar adalah putra kesayangan Abdul Muthollib. Saat Abdul Muthollib sudah bersiap untuk mengurbankan Abdul Dar, orang-orang Quraisy berkumpul. Salah seorang dari mereka yang bernama Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum berkata : 
"Demi Allah! jangan kamu sembelih anakmu. Biarlah kita yang menebus nyawanya dengan harta kita"
Abdul Muthollib pun setuju, lalu setelah berunding dengan seorang wanita ahli nujum, mereka sepakat bahwa penebusan nyawa Abdul Dar adalah dengan sepuluh ekor unta. Atas petunjuk ahli nujum itu ditulislah dalam satu undian dua nama, "Abdul Dar" dan "Sepuluh unta". Kedua nama itu diundi. Setiap kali diundi dan yang keluar adalah "Abdul Dar" mereka akan mengalikan dengan sepuluh ekor unta, terus diundi lagi sampai keluar nama "sepuluh unta". 
Ternyata nama "Abdul Dar" keluar sampai sepuluh kali, yang berarti mereka harus menyembelih 100 ekor unta. Barulah pada undian yang kesebelas, nama "sepuluh unta" yang keluar. "Inilah redho tuhanmu" kata wanita ahli nujum itu.
Abdul Muthollib pun karena girangnya berkata : "Hadza Abdullah.." inilah hamba Allah, katanya. Maka mulai saat itu, Abdul Dar berganti nama menjadi Abdullah.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa sebelum pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdullah yang saat itu adalah seorang pemuda tampan dan santun pernah dipanggil oleh seorang wanita. Wanita itu meminta Abdullah agar sudi mampir dan berkunjung ke rumahnya. Namun karena terhalang suatu urusan, Abdullah tidak bisa memenuhi undangan itu dan berjanji lain kali akan datang. Setelah pernikahannya, Abdullah teringat akan janji yang  pernah ia buat, maka ia pun segera pergi mendatangi rumah wanita yang dulu pernah mengundangnya.
"Ada gerangan apa kau tempo hari mengundangku?" Tanya Abdullah
"Sayangnya saat ini aku sudah tidak memiliki urusan apapun denganmu wahai Abdullah" jawab wanita itu.
"Mengapa demikian?" tanya Abdullah lagi
"Sesungguhnya aku mendengar dari saudaraku Waraqah bin Naufal bahwa kau memiliki suatu nur (cahaya) yang bersinar di keningmu. Nur itu adalah cahaya kenabian. Aku mendengar bahwa setiap wanita yang bisa mendapatkan nur itu akan menjadi wanita yang sangat mulia dan agung. Sebab ia akan melahirkan seorang manusia yang paling mulia, nabi akhir zaman.Tadinya aku berharap bisa menjadi wanita yang beruntung itu, sahabat. Tapi rupanya Tuhan telah memilih Aminah"
Setelah pernikahannya, Abdullah berangkat ke Syam untuk berdagang. Kemudian ia singgah di Madinah dan disanalah dia menderita sakit. Setelah menderita sakit selama sebulan, akhirnya Abdullah meninggal dan dikuburkan di perkampungan Bani Najjar. Pada saat ia meninggal, sang istri yaitu Aminah sedang mengandung dua bulan. Abdullah wafat dengan meninggalkan seorang istri, seorang calon anak yang akan menjadi nabi, dan saat wafat ia mewariskan lima ekor unta serta seorang jariyah (pembantu perempuan) bernama Ummu Aiman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar